Dewasa ini, informasi bisa didapatkan kapan saja dan dimana saja asalkan tersambung dengan jaringan internet. Tidak hanya informasi, kini belajar pun bisa dilakukan demikian. Tulisan, audio, video tentang apa saja sudah bisa didapatkan dengan mudah. Maka, seharusnya semua orang bisa pintar apa saja berdasarkan keinginannya.

Begitupun dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Banyak sekali konten yang memberikan edukasi tentang keduanya. Bisa berupa artikel ataupun video di halaman penyedia video. Banyak para ahli yang telah berbaik hati membagikan ilmu yang dimilikinya. Walaupun, tetap harus pintar-pintar juga dalam memilih atau memfilter sesuatu yang diambil atau dilihat. 

Namun dengan adanya hal tersebut, ternyata tingkat literasi ataupun pengetahuan masih sangat rendah. Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019. Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. 

Berkaitan dengan persoalan ini, saya mendapatkan realitas yang sesuai sekali dengan hasil survei yang dilakukan oleh PISA. Saat cuti lebaran yang ditetapkan oleh pemerintah tahun 2022 ini, saya berjumpa dengan kawan-kawan lama saya ketika masih duduk di bangku MTs. Kami masih sering berhubungan lewat pesan WhatsApp. Pada hari kedua lebaran, kami berkumpul di rumah saya. Sekalian halal bi halal.

Obrolan berlangsung lama dan pembahasannya ke mana-mana. Dimulai sekitar pukul sembilan malam. Di awal, obrolan masih biasa, seputar bercerita dan saling bertanya bagaimana kehidupan saat ini. Kemudian, berlanjut ke hal-hal lain yang masih berkaitan dengan kesibukan yang dijalani. Dan semakin larut malam, obrolan mengarah kepada hal-hal atau keilmuan. Pertanyaan-pertanyaan kemudian dimunculkan berkaitan dengan pengetahuan umum atau agama. 

Obrolan berlangsung sampai pukul tiga dini hari. Pembahasan yang berkaitan dengan pengetahuan umum ada pada seputar kebijakan pemerintah, kondisi para pemuda dan kegiatan yang dilakukan, dan pembahasan tentang sex. Lalu, pembahasan yang berkaitan dengan pengetahuan ada pada persoalan keimanan, ibadah, praktek-praktek ibadah, dan haid (fiqh perempuan). 

Dari sini, diperoleh kesesuaian antara realitas yang ada dengan survei. Bahwa, sebagian kawan yang alhamdulillah berkesempatan kuliah dan sebagian lagi sudah bekerja di kota yang sudah pasti memiliki telepon pintar itu memiliki tingkat literasi yang masih sangat kurang. Yang lebih menjadi perhatian saya adalah tentang pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pembahasan tentang ilmu agama. Pertanyaan yang seharusnya sudah bisa dijawab sendiri dengan mencarinya di mesin pencari, Google atau yang lain, tetapi masih menjadi hal yang seakan itu jauh atau sulit sekali untuk diketahui. 

Namun, saya juga bersyukur, alhamdulilah. Karena mereka sadar, bahwa pengetahuan mereka tentang keilmuan masih sangat rendah dan termasuk orang-orang yang berada di bawah dan harus berusaha memperbaiki kondisinya. 

Tidak hanya teman sebaya yang kondisinya demikian. Di hari yang lain, saya mendapati hal serupa juga terjadi pada orang-orang yang dianggap mempunyai ilmu. Hal-hal yang dibicarakan seputar hal yang seharusnya sudah selesai sejak 14 abad yang lalu (setelah nabi diutus). Jadi, saya pikir, hal ini berkaitan bahwa tingkat literasi atau kemampuan baca umat ini sangat kurang sekali. Sehingga, pengetahuan pada ilmu-ilmu dasar bahkan sedikit sekali. 

Mengingat pernyataan yang ada dalam al-Qur'an, Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik (QS Ali Imran: 110). Maka, kita harus berusaha keras menjadi orang yang merdeka secara pikiran juga harta. Dengan memiliki kemerdekaan berpikir kita akan bisa menjawab dan menghadapi peradaban yang semakin cepat. Dan dengan memiliki kemerdekaan harta kita bisa menggunakannya untuk berjuang dan menolong orang lain. Agar umat kita bisa menjadi umat terbaik. Wallahu a'lam bi al-shawaab