Dalam al-Qur'an tidak sedikit cerita yang berisi tentang kekuasaan, baik itu kekuasaan yang baik ataupun yang buruk. Contoh kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang dimiliki oleh nabi-nabi Allah, misalkan Nabi Sulaiman. Sedangkan contoh kekuasaan yang buruk (digunakan untuk keburukan) adalah kekuasaan yang dimiliki oleh Fir'aun. 

Disadari atau tidak, manusia akan cenderung mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya. Atau setidaknya, manusia akan mempertahankan pengaruh yang dimilikinya. Sebab, pengaruh itu mendatangkan keuntungan baginya. Maka, jika pengaruh itu hilang, keuntungannya juga lenyap.

Dalam konteks kehidupan, tidak hanya orang-orang yang ada di struktur pemerintahan yang akan berusaha mempertahankan kekuasaannya, tetapi para elit yang ada di masyarakat juga akan berusaha demikian. Pengaruh yang dimiliki, akan dipertahankan dan dilanjutkan. Dengan berbagai cara, mulai dari mempengaruhi cara berpikir, sampai tindakan. Agar pengaruh itu tidak sampai hilang darinya.

Dewasa ini, tidak sedikit orang yang memiliki pengaruh di masyarakat, lalu tidak mau atau takut kehilangan pengaruh itu. Bahkan sudah sejak dahulu. Di zaman nabi misalnya, ada Abu Jahal. Orang yang tidak mau beriman kepada nabi karena khawatir pengaruhnya akan hilang. Dan penyakit ini ada sampai saat ini, atau mungkin sampai masa yang akan datang. 

Para elit agama atau orang yang sering disebut sebagai ulama oleh masyarakat juga sebagian besar berlaku demikian. Akan lebih besar lagi apabila punya pesantren. Seorang kyai akan berusaha agar yang meneruskan perjalanan pesantrennya adalah anaknya. Walaupun terkadang tidak semua anak kyai itu punya kemampuan untuk meneruskan. Tetapi inilah yang terjadi. Maka, anak kyai pasti mendapatkan gemblengan yang luar biasa dari bapaknya. Walaupun biasanya pasti dianggap nakal, karena itu adalah implikasi dari rasa superioritas yang dimilikinya.

Yang akan menjadi kyai, ya anak kyai. Santri akan selamanya jadi santri. Pandangannya pasti begitu. Maka, pandangan ini yang perlu diperbaiki. Bahwa santri juga memiliki potensi untuk bisa menjadi kyai. Asalkan mempunyai kualitas dan kredibilitas yang memadai atau cukup. 

Tidak hanya kyai, orang-orang yang ditokohkan dalam masyarakat juga sangat mempertahankan pengaruhnya. Karena itu, sering terjadi konflik di antara tokoh masyarakat, baik konflik yang panas atau dingin. Hampir di setiap masyarakat ada hal demikian. Antara tokoh yang satu dengan tokoh lainnya ada permusuhan atau perselisihan. 

Maka, sebagai umat Islam, umat yang terbaik seharusnya bisa saling bekerjasama dalam bermasyarakat. Bukan berkompetisi. Walaupun terkadang berkompetisi juga perlu, tetapi bekerjasama akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Akan lebih baik lagi jika bisa bersinergi. Maka, dengan tercapainya umat yang bisa bersinergi, in syaa'a Allah umat Islam akan menjadi umat terbaik. Aamiin. Wallahu a'lam bi al-shawaab