Dalam sejarah perkembangan Islam, ilmu pengetahuan dan sains juga mengalami perkembangan yang pesat. Ekspansi Islam bebarengan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan sains. Ekspansi Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat itu terjadi pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid dan puteranya al-Ma’mun, pada masa Dinasti Abbasyiyah. Pada saat itu dilakukan penerjemahan berbagai karya-karya besar tentang ilmu pengetahuan dan sains. Oleh sebab itu, perkembangan ilmu pengetahua dan sains berkembang dengan pesat.

Perkembangan ilmu pengetahuan itu ditandai dengan didirikannya Baitul Hikam. Saat itu pula muncul banyak ilmuan. Tidak ada yang mengalahkan perkembangan sains dan ilmu pengetahuan pada masa itu bahkan bangsa eropa sekalipun.

Perkembangan sains dalam sejarah Islamdapat dilihat dari berbagai ilman muslim yang menemukan berbagai hal baru yang berguna. Namun seiring berjalannya waktu umat Islammengalami kemunduran dalam hal keilmuan dan sains. Kemunduran yang terjadi disebabkan berbagai faktor.

Jumud dalam berpikir

Ada banyak hal yang menjadi faktor ketertinggalan umat Islamdalam ilmu pengetahuan dan sains. Faktor-faktor ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Salah satu di antara faktor internal adalah kejumudan berpikir.

Jumud adalah sikap yang terpaku pada suatu hal dan berupaya dengan sangat keras untuk mempertahankan walaupun menuntut terjadi adanya perubahan. Jumud ini juga dapat diartikan dengan berpikir sempit, bekunya pikiran, artinya tidak mau mengikuti perkembangan yang ada dan hanya terpaku pada sesuatu yang diyakini. Orang-orang yang jumud akan sulit untuk melakukan analisis terhadap perkembangan peradaban seiring berjalannya waktu. Mereka seperti orang yang ada di dalam rumah yang sudah lama, mengurung diri di dalamnya merasa nyaman di dalamnya dan takut untuk keluar.

Sebagian orang takut atau enggan untuk melakukan renovasi. Padahal sesuatu akan mengalami pernaikan dan menjadi lebih baik jika dilakukan “renovasi”. Renovasi bisa diartikan pembaruan, peremajaan, dan penyempurnaan. Mereka takut untuk melakuakan hal itu. Orang-orang yang jumud itu mengurung diri dalam bangunan pemikiran masa lalu yang telah memberikan solusi atau memberikan jalan keluar dari masalah-masalah yang ada, namun pada pemikiran masa lalu itu belum tentu dapat menyelesaikan suatu masalah di masa sekarang dan yang akan datang.

Sifat jumud ini menjadikan umat Islamstatis dan tidak mengalami perkembangan. Lalu kenapa orang-orang terus melakukannya? Penyebab kenapa orang muslim mengalami kejumudan adalah kurangnya kemauan untuk belajar dan rasa malas. Sifat buruk inilah yang menjadikan umat Islamtidak mengalami kemajuan. Sifat buruk ini yang menjadikan umat Islamtertinggal dalam bidang keilmuan. Tidak ada kemauan atau keinginan untuk menemukan hal-hal baru yang bisa dimanfatkan.

Selain rasa malas untuk belajar dan berusaha menemukan hal-hal baru atau mengembangkan sesuatu yang sudah ada, penyebab orang Islammengalami kemunduran dalam ilmu pengetahuan adalah menjamurnya budaya konsumsi tingkat tinggi. Mereka malas untuk memproduksi penemuan-penemuan atau ilmu pnegtahuan sendiri. Rasa nyaman yang tertanam dalam menyebabkan mereka hanya mau menikmati hasil penemuan-penemuan yang sudah ada. Jika sifat konsumtif ini terus dipelihara maka akan semakin membuat umat Islam tertinggal.

Orang-orang yang memiliki pemikiran yang sempit ini menganggap bahwa agama yang di bawa dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. itu sudah sempurna. Ini yang menjadikan orang-orang enggan untuk terus melakukan pembaruan dalam ilmu pengetahuan atau sains. Mereka keliru dalam memahami ayat al-Qur’an surah al-Maidah: 3, “Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Kucukupkan Nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Kuridhai Islamsebagai agama kalian.” Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa agama Islamtelah sempurna, tidak perlu ditambah dan dikurang.

Dalam suatu riwayat Aisyah radliallahu ‘anhu menyatakan bahwa “Barang siapa yang beranggapan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu yang telah Allah turunkan, sungguh ia telah berdusta besar terhadap Allah.” Dari riwayat itu mereka bernanggapan bahwa tidak perlu adanya pembaruan dalam Islam. walaupun demikian bukan berarti tidak boleh adanya pembaruan dalam ilmu pengetahuan dan sains Islam. Pemikiran yang begini yang harus di rekonstruksi agar perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islamsemakin berkembang. Selain itu juga agar orang Islamtidak tertinggal dari perkembangan zaman dan mampu bersaing dengan orang-orang barat.

Kemunduran umat Islamdalam ilmu pengetahuan dan sains disebabkan oleh diri mereka sendiri. Sebetulnya setelah masa keemasan yang diraih umat Islam pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid ada ilmuan-ilmuan yang menemukan penemuan-penemuan baru, namun karena dari orang Islamsendiri tidak memberikan dukungan kepada para ilmuan tersebut sehingga mereka memutuskan untuk pindah ke daerah lain yang bisa mendukung mereka.

Terfokus pada fiqih

Selain karena bekunya pikiran orang islam, ada sebab lain tentu yang berasal dari dalam orang islam. Pertanyaan yang sangat perlu untuk diperhatikan oleh umat Islam, yaitu mengenai kenapa orang Islam dewasa ini tidak mengalami perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan sains. Jawaban dari pertanyaan ini dapat dilihat langsung bagaimana keadaan atau bagaimana orang Islamsekarang memfokuskan diri mereka pada fiqih saja. Mereka membahas permasalahan-permasalahan yang hanya akan membuat mereka bertengkar karena perbedaan pendaat antara kelompok satu degan kelompok yang lain. Metreka tidak memperhatikan bagaimana orang di luar sana melakukan pembaruan-pembaruan untruk menemukan sesuatu yang baru yang dapat memilki daya guna tinggi bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

Dalam buku Ayat-ayat Semesta disebutkan bahwa al-Qur’an, kitab yang menjadi pedoman dan sumber utama berbagai ilmu, di dalamnya terdapat ayat kauniyah atau ayat yang membahas tentang alam semesta sekitar 750 ayat, sedangkan ayat yang membahas tentang fiqih hanya ada sekitar 150 ayat.

Dari pernyataan tersebut dapat dijadikan perenungan yang sangat mendalam. Para ulama dan umat sudah banyak sekali membahas mengenai fiqih dan mereka sering kali bertengkar karena hal-hal yang sebetulnya tidak seharusnya dipertengkarkan. Sudah banyak pula karya-karya yang muncul dalam fiqih, namun karya-karya sains kini seakan hilang tanpa jejak. Tidak ada karya yang muncul lagi tentang sains dan penemuan-penemuan setelah masa keemasan, masa Khalifah Harun ar-Rasyid.

Lebih banyak ayat yang mejelaskan tentang kejadian-kejadian alam semesta yang dibahas dalam al-Qur’an, namun karya-karya tentang fiqih jauh lebih banyak yang sudah ditulis oleh para ilmuan muslim. dengan dua sepertiga lebih ayat al-Qur’an yang membahas tentang fenomena alam semesta, orang Islamlebih mampu untuk membuat karya-karya baru dan penemuan-penemuan baru sehingga masa kejayaan umat Islamdalam ilmu pengetahuan dan sains dapat kembali didapatkan.

Fiqih termasuk dalam hal penting yang memang harus dipahami oleh umat islam. Seperti halnya undang-undang, fiqih mengatur kehidupan umat islam. Namun, Islambukan hanya tantang fiqih saja, ada fondasi yang seharusnya lebih diperhatikan oleh setiap muslim, yaitu Al-Qur’an dan Hadis. Kembali pada yang sudah disebutkan diatas bahwa di dalam al-Qur’an lebih dari separuhnya adalah ayat-ayat kauniyah yang membahas tentang kejadian tentang alam semesta ciptaan Tuhan.

Berpegang teguh dan memahami al-Qur’an secara komprehensif akan menjadikan orang Islamkembali bangkit dan menemukan hal-hal baru yang dapat bermanfaat bagi umat. Tidak hanya pada al-Qur’an saja, berpedoman juga pada hadis-hadis yang shahih. Wallahu a’lam bi al-shawaab

Ditulis ketika agenda libur lebaran di Daar al-Qalam 3