Kondisi
masyarakat Islam saat ini dengan masyarakat selain Islam dalam hal
kesejahteraan hidup sangat timpang. Atau bisa dibilang jauh berbeda. Orang
muslim kebanyakan pada kondisi kesejahteraan yang rendah, sedangkan orang-orang
selain Islam pada kondisi yang jauh lebih baik. Terutama dalam konteks
perkembangan teknologi yang memudahkan kerja-kerja manusia.
Kemajuan
orang-orang non-Islam dan kemunduran orang-orang Islam ini tentu ada sebabnya.
Sebagaimana pernah terjadi zaman kejayaan Islam dan ketertinggalan orang
non-Islam juga ada sebab-sebabnya. Salah satu sebab kemajuan Islam pada
zamannya adalah karena kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukan oleh
orang-orang pada masa itu. Juga tentu dengan adanya pertolongan Allah.
Berbanding
terbalik dengan zaman itu, kaum muslim zaman sekarang sangat sedikit yang
menekuni bidang tertentu yang bisa menyejahterakan kehidupan. Terutama muslim
di Indonesia. Kebanyakan orang membahas hal yang seharusnya sudah selesai sejak
13 abad yang lalu. Tetapi masih menjadi pembahasan yang sangat digemari
masyarakat.
Sunatullah
Kedua hal
tersebut sesuai dengan sunatullah. Sunatullah ini berasal dari dua kata yaitu sunnah dan
Allah. Kata Sunnah bisa diartikan cara, aturan, atau norma.
Dan Allah merupakan Zat Yang Maha atas segalanya. Maka, sunatullah dapat
diartikan aturan yang Allah tetapkan berkaitan dengan mekanisme yang terjadi di
alam ini.
Dalam hal ini
setidaknya ada dua macam sunatullah bagi orang yang tidak beriman. Barang siapa
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan)
penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia
tidak akan dirugikan. (Hud: 15)
Ini adalah
sunatullah yang pertama. Maksud ayat ini adalah orang-orang yang tidak beriman
dan melakukan pekerjaan (kebaikan), maka kemungkinan Allah akan memberikan
balasan penuh atas apa yang mereka lakukan.
Jika demikian,
maka logikanya atau mafhum mukhalafah dari ayat ini adalah orang-orang yang
tidak beriman dan mendapatkan balasan atas kerjanya atau bisa dibilang untung
di dunia. Maka di akhirat akan mendapatkan kerugian. Dan barang siapa mencari
agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang
yang rugi. (Ali Imran: 85) Amal yang telah diperbuat di dunia tidak mendapatkan
balasan apa pun di akhirat. Amal mereka sia-sia. Maka, mereka termasuk
orang-orang yang merugi.
Balasan atas amal
yang mereka kerjakan itu terhapus dan batal atau ter-cancel. Itulah orang-orang
yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di
sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah
mereka kerjakan. (Hud: 16)
Itulah sunatullah
yang pertama. Orang-orang yang tidak beriman diberikan balasan kebaikan atas
apa yang mereka kerjakan di dunia. Atau yang disebut dengan istidraj.
Sunatullah yang
kedua adalah tentang al-Mufsidiin. Orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi.
Paradigma yang ada dalam al-Qur’an tentang orang-orang yang berbuat kerusakan
ini sebenarnya bukan pada konteks melakukan hal yang secara alamiah merusak.
Tetapi paradigmanya adalah paradigma teologis.
Misalkan pada surat al-Baqarah, “Dan apabila dikatakan kepada mereka,
“Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami
justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” (Al-Baqarah: 11) mereka yang
dimaksud di ayat ini adalah orang-orang kafir. Dalam Tafsir Jalalain, kata laa tufsiduu fii al-ardli ditafsirkan
dengan bi al-kufri wa al-ta’wiiqi ‘ani al-iimaani. Syaikh Jalaluddin menafsirkan ‘Jangan berbuat kerusakan di
bumi’ itu dengan berbuat kufur atau ingkar dan menghalangi dari keimanan atau
beriman. Paradigma yang digunakan sangat teologis.
Namun, dengan
perbuatan yang paradigmanya adalah teologis, bisa menimbulkan murka Allah SWT.
Karena mereka tidak merasa atas apa yang mereka lakukan. “Orang-orang yang
sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul), maka datanglah kepada mereka
azab dari arah yang tidak mereka sangka.” (Az-Zumar: 25) Bahwa Allah akan
mengazab/menghukum/menyiksa mereka (orang-orang yang mendustakan, yang berbuat
keringkan) dari arah yang mereka tidak sangka. Mereka tidak merasa bahwa mereka
telah melakukan kesalahan. Maka, Allah menurunkan azab untuk mereka. Tidak
hanya dalam paradigma teologis saja, orang yang secara jelas berbuat kerusakan
di bumi, pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.
Demikian sunatullah yang Allah tetapkan kepada orang-orang yang tidak beriman dan berbuat kerusakan di muka bumi. Maka, semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, baik dalam paradigma teologis ataupun ilmiah atau benar-benar berbuat kerusakan yang tampak di bumi. Agar bumi ini tetap lestari dalam lindungan-Nya. Aamiin. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

0 Komentar